TUBERCULOSIS DAN MEROKOK
KOMBINASI YANG MEMATIKAN
Saat ini Indonesia merupakan negara yang menempati peringkat ke–2 dengan beban TB tertinggi di dunia setelah India. Data Gobal TB Report tahun 2021 diperkirakan kasus TB di Indonesia mencapai 824.000 kasus dengan kasus TB yang ditemukan dan dilaporkan sebanyak 393.323 kasus. Setiap 1 jam, 11 orang meninggal karena TB.
Selain itu, pandemi Covid-19 sangat berdampak terhadap capaian indikator eliminasi TB. Pandemi Covid-19 mengakibatkan berkurangnya penemuan kasus TB, meningkatnya kematian akibat TB dan melambatnya penurunan insiden kasus TB.
Tantangan dalam penanganan kasus TB di Indonesia saat ini adalah target yang tidak tercapai, baik itu dalam penemuan kasus atau diagnosis TB maupun pada layanan pengobatan TB.
Salah satu faktor penting yang meningkatkan risiko terinfeksi TB adalah merokok. Merokok meningkatkan resiko lebih dari 2 kali lipat untuk terinfeksi TB dibanding dengan tidak merokok. Seorang perokok pasif 4,5 kali beresiko terinfeksi TB dibandingkan dengan orang yang tidak terpapar asap rokok. Ditemukan 1 dari 5 kasus TB di dunia adalah seorang perokok. Merokok bisa menurunkan daya tahan tubuh dan meningkatkan resiko kematian akibat gagal nafas.
Yang menjadi masalah prevalensi perokok muda di Indonesia terus bertambah setiap tahunnya. Jumlah perokok di Indonesia menduduki rangking ke-13 di dunia. Terdapat 37,90 % perokok atau sekitar 53,7 juta perokok dari seluruh populasi penduduk di Indonesia. Di dunia ditemukan 8 Juta orang meninggal akibat merokok setiap tahunnya.
Seorang perokok lama yang mengalami batuk akibat rokok (smoker cough), tidak merasa batuk akibat TB karena sudah terbiasa batuk. Keadaan ini mengakibatkan penyakit TB tidak terdiagnosis dan tidak cepat diobati. Bila keadaan ini dibiarkan maka orang ini merupakan sumber penularan TB untuk orang-orang di sekitarnya.
Dermina Sirait, petugas program TB Puskesmas kecamatan Kalideres mengatakan bahwa hampir semua pasien TB laki-laki yang diobatinya adalah juga perokok. Sebagian besar didiagnosis TB setelah mengalami gejala batuk lama tanpa menyadari bahwa gejala batuknya disebabkan oleh penyakit TB. Menurutnya, faktor merokok juga sangat berpengaruh terhadap berkurangnya nafsu makan yang berdampak terhadap proses kesembuhan pasien TB.
WHO/theUnion.org memberikan rekomendasi untuk berhenti merokok dengan upaya mengidentifikasi perokok pada setiap pasien TB (Ask), memberikan konsultasi singkat 5-7 menit (Briefadvise) dan memberikan dukungan untuk berhenti merokok (Cessation support).
Namun, menurut dr.Erlina Burhan, SpP(K) dalam paparannya menyatakan bahwa ada tantangan dalam edukasi berhenti merokok pada pada pasien TB yaitu kecanduan fisik, koneksi emosional atau psikologis, serta koneksi prilaku dan sosial terhadap rokok.
Kecanduan fisik pada seorang perokok diakibatkan oleh zat nikotin. Nikotin merupakan salah satu bahan kimia yang bersifat adiktif. Sebagai perokok, otak dan tubuh akan terbiasa berfungsi sesuai dengan kadar nikotin tertentu di dalam tubuh. Jika kadar nikotin berkurang, maka otak akan membutuhkan asupan nikotin. Pada saat upaya berhenti merokok, penting untuk diingat bahwa tidak adanya nikotin di otak akan membuat perokok merasa tidak nyaman dan menyebabkan gejala putus zat (withdrawal symptoms).
Gejala putus zat nikotin ini dapat berupa sakit kepala, batuk, keinginan merokok, tidak bisa istirahat, sulit konsentrasi, insomnia, flu-like symptoms, peningkatan berat badan, dan perubahan mood.
Cara mengatasi kecanduan nikotin dan gejala putus zat nikotin adalah dengan memberikan terapi kognitif prilaku dan terapi farmakologis.
Seorang perokok biasanya menghubungkan rokok dan merokok dengan emosi, pikiran dan keyakinan tertentu. Menyalakan rokok menyebabkan kadar nikotin di dalam tubuh meningkat sehingga menimbulkan perasaan lebih tenang, senang dan rileks. Bila tidak merokok akan menyebabkan kehabisan nikotin yang menimbulkan perasaan cemas, tegang dan gelisah
Untuk mengatasi koneksi emosional dilakukan dengan cara pengingat (Reminder) pribadi. Pengingat pribadi yang positif harus berdasarkan manfaat dari berhenti merokok. Seperti saya berhenti merokok agar hidup saya lebih sehat, saya berhenti merokok dapat membantu keberhasilan pengobatan TB, bila saya berhenti merokok dapat mencegah saya terinfeksi TB berulang. Cara ini untuk membantu memutuskan hubungan antara berhenti merokok dengan emosi atau keyakinan negatif.
Haris, 50 tahun, salah seorang pasien TB yang juga perokok mengatakan bahwa dirinya bisa berhenti merokok selama bulan puasa, tetapi setelah bulan puasa selesai akan timbul lagi kebiasaan merokok. Kebiasaan ini dirasa muncul di saat dirinya tidak ada kegiatan sehingga merokok dilakukan untuk mengisi waktu senggangnya. Ini merupakan salah satu tantangan dalam edukasi berhenti merokok yaitu timbulnya koneksi prilaku dan sosial terhadap rokok.
Ada beberapa cara memutus koneksi antara prilaku dan sosial dengan merokok. Misalnya kebiasaan merokok setelah makan, dapat diatasi dengan cara memulai aktivitas baru yang sehat segera setelah makan. Kebiasaan merokok saat kumpul bareng sesama perokok, maka hindari situasi ini sampai berhasil berhenti merokok.
Didapatkan fakta bahwa berhenti merokok akan meningkatkan kepatuhan dalam pengobatan TB. Juga berkurangnya drop out pengobatan TB, berkurangnya kegagalan dan kekambuhan dalam pengobatan TB serta menurunkan kematian. Laporan WHO menyatakan bahwa kasus TB menurun 20 % bila tidak ada faktor risiko merokok.
Pada World TB Day 2022 dengan tema “Invest to End TB.Save lives”. Salah satu bentuk investasi penting dalam mengendalikan TB yaitu pengendalian merokok. Investasi dalam pengendalian merokok berkontribusi terhadap identifikasi dini kasus TB, pengobatan dini kasus TB dan pencegahan dini kasus TB.
Kementerian Kesehatan RI sebaiknya menetapkan upaya pengendalian merokok secara komprehensif ke dalam program pengendalian TB. Berhenti merokok merupakan upaya yang terintegrasi dalam edukasi TB pada setiap pelayanan kesehatan. Sebaiknya ditetapkan suatu sistem skrining TB dan merokok pada setiap pengunjung fasilitas kesehatan.
Selain itu, diperlukan adanya aksi nyata kolaborasi antara program TB dengan program pengendalian merokok. Aksi kolaborasi ini antara lain seperti penulisan peringatan kesehatan dengan huruf besar pada kotak bungkus rokok untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan promosi berhenti merokok; menaikkan pajak dan harga rokok untuk memotivasi perokok berhenti merokok dan mencegah perokok pemula; penetapan larangan merokok di area publik, tempat kerja dan rumah untuk menciptakan lingkungan bebas rokok serta pembatasan iklan, promosi dan sponsorship rokok untuk mencegah dan mematahkan semangat merokok.
TB dan merokok memang merupakan kombinasi yang sangat membahayakan dan mematikan bila tidak segera dikendalikan. Investasi dan integrasi kebijakan pengendalian merokok dalam pengendalian TB merupakan rencana aksi yang sangat penting untuk mengakhiri TB.